Showing posts with label Perkembangan Peserta Didik. Show all posts
Showing posts with label Perkembangan Peserta Didik. Show all posts

Tri Pusat Pendidikan

Lembaga Pendidikan ialah badan usaha yang bergerak dan bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap anak didik.
Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Pertama dan Utama
Kalau kita tinjau dari ilmu sosiologi, keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri dari beberapa individu yang terikat oleh suatu keturunan, yakni kesatuan dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat.
Pendidikan Keluarga adalah juga pendidikan masyarakat, karena disamping keluarga itu sendiri sebagai kesatuan kecil dari bentuk kesatuan-kesatuan masyarakat, juga karena pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya sesuai dan dipersiapkan untuk kehidupan anak-anak itu di masyarakat kelak. Pendidikan keluarga mau tidak mau harus mengikuti derap langkah kemajuan masyarakat. Dengan demikian nampaklah adanya satu hubungan erat antar kelurga dengan masyarakat.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat terbentuk berdasarkan sukarela dan cinta yang asasi antara dua subyek manusia (suami-isteri). Berdasarkan asas cinta yang asasi ini lahirlah anak sebagai generasi penerus. Keluarga dengan cinta kasih dan pengabdian yang luhur membina kehidupan sang anak. Oleh Ki Hajar Dewantara dikatakan supaya orang tua (sebagai pendidik) mengabdi kepada sang anak. Motivasi pengabdian keluarga (orang tua) ini semata-mata demi cinta kasih yang kodrati. Di dalam suasana cinta dan kemesraan inilah proses pendidikan berlangsung seumur anak itu dalam tanggung jawab keluarga.
Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan Kedua
Sekolah memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada jiwa anak. Maka disamping kelurga sebagai pusat pendidikan, sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak.
Dengan sekolah, pemerintah mendidik bangsanya untuk menjadi seorang ahli yang sesuai dengan bidang dan bakatnya si anak didik, yang berguna bagi dirinya, dan berguna bagi nusa dan bangsanya.
Dengan sekolah, golongan atau partai mendidik kader-kadernya untuk meneruskan dan memperjuangkan cita-cita dari golongan atau partainya. Dengan sekolah, kaum beragama mendidik putra-putranya untuk menjadi orang yang melanjutkan dan memperjuangkan agama.
Karena sekolah itu sengaja disediakan atau dibangun khusus untuk tempat pendidikan, maka dapatlah ia kita golongkan sebagai tempat atau lembaga pendidikan kedua sesudah keluarga, lebih-lebih mempunyai fungsi melanjutkan pendidikan kelurga dengan guru sebagai ganti orang yang harus ditaati.
Masyarakat Sebagai Lembaga Pendidikan Ketiga
Keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya. Masalah pendidikan di keluarga dan sekolah tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat di manapun berada, tentu mempunyai karakteristik tersendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya yang berbeda dengan karakteristik masyarakat lain, namun juga mempunyai norma-norma yang universal dengan masyarakat pada umumnya.

Membentuk Karakter Anak

Membentuk karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak, akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Dengan begitu, fitrah setiap anak yang dilahirkan suci bisa berkembang optimal. Untuk itu, ia melihat tiga pihak yang mempunyai peran penting. Yakni, keluarga, sekolah, dan komunitas.
Dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang berlangsung secarater integrasi.
Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.
Kedua, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan.
Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya. Lewat proses itu, ada sembilan pilar karakter yang penting ditanamkan pada anak. Dimulai dari cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, kejujuran, hormat dan santun, kasi sayang, kepedulian, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan. Karakter baik ini harus dipelihara.
Lingkungan ini mengitari manusia sejak manusia dilahirkan sampai dengan meninggalnya. Antara lingkungan dan manusia ada pengaruh yang timbal balik, artinya lingkungan mempengaruhi manusia, dan sebaliknya, manusia juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya.

Upaya Mengembangkan Karakter Peserta Didik

Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam memberikan bimbingan pada anak didik, yaitu :
A.           Berusaha mengerti pribadi individu
Setiap pribadi adalah unik dan kompleks.Masing-masing individu memiliki ciri yang unik. Dengan memahami pribadi masing-masing individu pendidik akan memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan dari peserta didik sehingga pendidik akan lebih mudah memberikan bimbingan dan arahan serta nasihat.
B.            Mencari sebab-sebab timbulnya permasalahan karakter peserta didik.
Dengan mencari penyebab terjadinya permasalahan karakter, pendidik akan lebih mudah mencari penyelesaian.
C.           Menanamkan nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai keagamaan
Nilai spiritual dan nilai keagamaan akan menjadi guidence dalam kehidupan peserta didik. Dengan memahami nilai spiritual keagamaan peserta didik akan memiliki kehidupan yang lebih tenang dan ketahanan pribadi dalam menghadapi permsalahan dan cobaan hidup.
D.           Pendidik menjadi teladan bagi peserta didik
Sifat asasi manusia adalah peniru. Karakter peserta didik akan lebih mudah dibentuk apabila sudah ada contoh (model) dari orang disekelilingnya. Orang tua maupun guru harus dapat menjadi model karakter pribadi yang baik bagi peserta didik.
E.            Melatih  kebiasaaan – kebiasaan positif baik di sekolah maupun dirumah.
Contoh kebiasaan positif diantaranya adalah mengatur waktu, mengikuti aturan sekolah dengan sadar, membina hubungan baik dengan sesama teman, mengerjakan tugas dan pekerjaan secara mandiri, dll.
F.            Melatih cara merespon masalah dengan baik.
Menghindari sikap dan tindakan yang bermaksud menghindar atau lari dari masalah.Kemampuan memecahkan masalah adalah bekal life skill bagi kehidupan di masa datang.Untuk itu peserta didik harus memiliki sikap mental yang responsif dan responsible. Pesera didik dilatih mampu mengelola emosi dan meningkatkan daya nalar dalam memecahkan persoalan.
G.           Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ketrampilan sesuai bakat dan minat yang dimiliki.
Sekolah dan rumah adalah tempat terdekat peserta didik untuk mengembangkan kapasitas intelektual dan bakat serta ketrampilan yang dimilki. Pengembangan penguasaan iptek dan bakat di sekolah dapat diakukan dengan program-program ekstrakurikuler maupun proses pembelajaran di dalam kelas itu sendiri. Di lain pihak, orang tua memberikan arahan yang benar bagi anak  dalam menyalurkan bakat serta minat yang dimilikinya.